Detik ini, ketika tulisan ini teruntai..aku sedang sakit. sakit dalam arti yang sebenarnya, aku menyebutnya komplikasi pasca UTS yang nyata2nya berbeda dari ekspektasi sebelumnya.Entah mengapa dengan kondisi yang amburadul justru aku putuskan menulis, bandel. Mungkin aku hanya bosan, merasa dipermainkan dengan penyakit yang sembuh kumat selama seminggu ini. Dan bebarengan dengan itu, ada perasaan yang ga tau apa namanya, mengganggu pikiranku, berharap ini ga benar, berharap ada yang beritahu letak salahnya.

I'm alone, both in denotation and conotation. Aku menemukan pikiran bodoh ini tiap kali aku sakit. Sejujurnya Alhamdulillah, aku punya banyak teman disini, banyak tawa yang bisa kubagi dan kudapat selama 2tahun diperantauan berjudul bintaro. Main kesini, main kesana, bercanda , menggila..baik 1AE maupun 2AF, semua sama.Hangat. Tapi entahlah, tiap kali aku sakit..aku merasa sendiri. Memang kehidupan itu keras, dan aku sendiri-sadar- kalau aku juga bukan tipe yang sangat peduli dengan orang lain. Sedang aku ini siapa, bukan seseorang yang penting. dunia akan tetap bulat pepat walau aku ga ada.  Tak ada orang khusus yang aku tujukan, ini hanya pemikiran. Dan orang tua adalah pengecualian.

Dan di detik yang sama, saat tubuh ini kian berontak meminta untuk diistirahatkan, aku merindukan seseorang. Yang aku tak mengerti pasti itu siapa, hanya kutau..seseorang itu mencintai aku. tak cukup itu, seseorang itu disini. menjadi muaraku, saat aku merasa tak ada lagi laut , saat tak ada lagi telinga yang mau mendengar,saat tak ada lagi hati yang peduli dan ya.. saat inilah. Aku pernah punya seseorang itu. Kupercaya dia masih sama. Namun jika tak disini, tak bisa terjamah, apalah artinya muara. Bila yang ada hanya suara tanpa wujud, bertanya bagaimana keadaanku dan tetap membiarkan aku bangkit sendiri kala terjatuh. Itu bukan.

Jika muara itu laut, aku harap  segera bisa mencium asinnya pantai.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to " "